"Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku dengan sebab (pujian) yang mereka ucapkan,
dan ampunilah aku dari (perbuatan dosa) yang tidak mereka ketahui
(dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka)"
(HR. Bukhari)

Tersenyumlah Wahai Diri

Kesedihan tak akan Abadi...

Maka tersenyumlah Wahai diri, Roda kehidupan selalunya berputar ada kalanya bahagia terasa, Sedih Merintih juga air mata.
Tapi tahukan engkau, ada Dia yang Selalu menatapmu Lembut yang paling tahu apa Yang terbaik Untukmu. Dia Memberi apa Yang kamu butuhkan Bukan apa Yang kamu inginkan.

Maka Tersenyumlah wahai Diri, semua Yang terjadi Juga karena Kehendak-Nya, semua berjalan... atas Rencana-Nya. Ilmu-Nya meliputi segalanya dan kau tak MUngkin menjangkaunya...
jadi Untuk apa resah untuk Sesuatu yang Belum pasti kejadiannya.
Bukankah janji-janji-Nya itu pasti.
Allah Maha Mengetahui.

Pantaskah??

Maha Kasih,
Pantaskah Hamba meraih Ampunan-Mu?
Ketika hamba hanya mampu mengucap dalam kata
Tiada melangkah seirama Raga dan kesucian Jiwa

Maha Cinta,
Pantaskah Hamba meraih Ampunan-Mu?
Ketika Sang jiwa masih hamba hinakan dengan Dusta
Memeluk dendam,bahkan memutus tali persaudaraan

Maha Pemurah,
Pantaskah Hamba meraih Ampunan-Mu?
Jika hanya disaat hamba butuh Sandaran-Mu,
Terukirlah nada-nada Doa,
Namun menjauh,
Ketika kelopak bahagia lenakan senyumanku

Petikan surat Syeikh Abdul Qadir al-Jilani

Sahabat-sahabatku yang dikasihi. Hati kamu adalah seumpama cermin yang berkilat. Kamu mesti membersihkannya daripada debu dan kekotoran yang menutupinya. Cermin hati kamu itu telah ditakdirkan untuk memancarkan cahaya rahsia-rahsia Ilahi.

Bila cahaya dari “ Allah adalah cahaya bagi semua langit dan bumi… ” mula menyinari ruang hati kamu, lampu hati kamu akan menyala. Lampu hati itu “berada di dalam kaca, kaca itu sifatnya seumpama bintang berkilau-kilauan terang benderang…” Kemudian kepada hati itu anak panah penemuan-penemuan suci akan hinggap. Anak panah kilat akan mengeluarkan daripada awan petir maksud “bukan dari timur atau barat, dinyalakan dari pohon zaitun yang diberkati…” dan memancarkan cahaya ke atas pokok penemuan, sangat tulen, sangat lutsinar sehingga ia “memancarkan cahaya walaupun tidak disentuh oleh api”. Kemudian lampu makrifat (hikmah kebijaksanaan) akan menyala sendiri. Mana mungkin ia tidak menyala sedangkan cahaya rahsia Allah menyinarinya?